INTELEKTUALISASI BAHASA
ARAB SEBAGAI SENJATA
DIPLOMASI
INDONESIA - TIMUR TENGAH
Oleh
Aminah Islamiyah
Sastra Arab Universitas Padjadjaran
Eksistensi bahasa
arab di mata dunia pada dasarnya sudah tidak dapat diragukan lagi saat ini.
Jika kita hendak flashback, mendunia-nya bahasa arab sudah terjadi dari
masa kepemimpinan khilafah bani Abbasiyah dahulu disertai dengan berkembangnya
agama Islam ke wilayah Eropa. Bahasa arab-pun menjadi bahasa peradaban yang
ditandai dengan diterjemahkannya berbagai
buku Yunani dan Persia ke dalam bahasa arab. Dan puncak kejayaannya
adalah pada masa – masa dimana mayoritas cabang semua ilmu terlahir dari ilmuwan – ilmuwan arab,
disinilah bahasa arab tertuntut dipelajari oleh banyak manusia dari luar Negara
Arab.
Dalam
perjalanan perkembangannya, bahasa arab juga dianggap pernah mengalami
kemerosotan. Masa kemerosotan ini tidak terlepas dari perjalanan berkembangnya
peradaban agama islam di dunia. Setelah masa khilafah Turki Usmani runtuh,
bangsa Arab banyak dimasuki oleh orang – orang Barat dan secara perlahan
mulailah terjadi pengikisan bahasa arab baku menjadi bahasa arab dialek yang
saat ini kita juga dapat menemukan di berbagai belahan Negara – Negara arab.
Jatuhnya peradaban islam saat itu cukup menjadi pengaruh yang sangat besar
terhadap perkembangan bahasa arab yang akhirnya melahirkan bahasa “gaul” di
Negara – Negara Timur Tengah. Bersyukurnya, tersandungnya peradaban bahasa arab
ini tidak sampai pada jatuh yang tak bisa bangkit kembali, selain karena telah
dijamin oleh Alloh SWT atas keabadian bahasa arab dalam Al-Qur’an, maka saat
ini kita dapat menyaksikan eksistensi bahasa arab yang tak pernah mati. Selain
digunakan sebagai salah satu bahasa pengantar PBB, bahasa arab juga banyak
dipelajari “kembali” oleh banyak masyarakat di luar Negara Timur Tengah.
Ke-eksistensi-an ini sudah menjadi rahasia umum di dunia, 99,99 % Negara
pemasok minyak di dunia adalah Negara – Negara Timur Tengah , selayaknya kita
sebagai mahasiswa yang tidak hanya
mempelajari tentang bahasa arab tapi juga mengenai profil negara – negara
tersebut harus mengetahui poin – poin
ke-eksistensi-an bahasa arab di mata dunia.
Dalam hal
perkembangan situasi ekonomi dunia, bahasa arab memiliki peran dan porsi yang
sangat penting, hal itu ditunjukkan dengan semakin berperannya Negara –negara
Timur Tengah yang notabene berbahasa arab dalam keterlibatannya sebagai jantung
ekonomi dunia. Keadaan ini melahirkan tuntutan Negara kita Indonesia untuk
dapat ikut berperan dan menjalin hubungan diplomasi dengan negara – negara
Timur Tengah, terutama penekanan dalam hubungan diplomasi. Pada dasarnya
hubungan Negara Indonesia yang sama – sama notabene beraga muslim cukup dan
seharusnya menjadi factor penting untuk Negara – Negara Timur Tengah agar lebih
“mujur” menjalin hubungan diplomasi dengan Negara kita. Akan tetapi, menurut
data terkini masih ada pendapat yang menyatakan bahwa kepercayaan Negara –
Negara Timur Tengah terhadap negara Indonesia kita “kalah kepercayaan” dengan
Negara tetangga, Malaysia. Kalah kepercayaan ini dinilai dari para investor –
investor Timur Tengah yang lebih banyak memilih untuk menginvestasikan
bisnisnya di Negara tetangga kita tersebut. Mengapa hal ini bisa terjadi dan mengapa
sampai bisa terjadi dengan mempertimbangkan pada dasarnya kita memiliki
hubungan awal yang baik dengan negara Timur Tengah. Ini semua kembali kepada
eksistensi identitas Negara Indonesia kita, apakah Negara kita adalah Negara
islam yang pastinya berhubungan dekat denga bahasa arab ? ataukah Negara kita
adalah negara demokrasi yang tidak mengkhususkan kepada identitas agama yang
berkaitan dengan bahasa arab.
Terlepas dari identitas
Negara Indonesia dan semua perihalnya, saat ini Negara kita sedang sangat
berpotensi untuk menjalin kerjasama dan diplomasi dengan Negara –negara Timur
Tengah. Potensi ini didukung dengan image Negara yang mayoritas
masyarakatnya beragama islam dan juga pembelajaran bahasa arab yang sudah
sangat digandrungi oleh hampir 80% pelajar di Indonesia. Oleh karena itu, factor
penguasaan bahasa arab sebagai salah
satu senjata atau alat penarik simpati Negara Timur Tengah sangatlah penting
dan sangat perlu di terapkan. Pelajar – pelajar yang berstatus santri di
Indonesia sendiri sudah tidak diragukan lagi kualitas dan kuantitasnya.
Berdasarkan data terakhir Departemen Agama Indonesia menyatakan bahwa data
lembaga pendidikan pesantren yang terdaftar berjumlah 27.500 sekian. Ini
membuktikan bahwa Indonesia sangat potensial mengenai sumber daya manusia yang
mahir akan ilmu serta pelafalan bahasa arab. Dan hal ini cukup menjadi factor
penting untuk menunjang ketertarikan Negara – Negara Timur Tengah terhadap
Indonesia terutama dalam bidang diplomasi dan kerjasama. Oleh karena itu, perlu
penyaluran dan pendayagunaan secara optimal dari SDM-SDM santri yang ada di Indonesia ini untuk dapat menjadi senjata – senjata diplomasi
bagi Negara – Negara Timur Tengah.
Sayangnya,
berlimpahnya sumber daya manusia para
pelajar yang ahli dalam pelafalan bahasa arab dan para pelajar yang khususnya
belajar bahasa arab dengan metode penerapan bahasa dalam keseharian di asrama, seakan – akan
tidak nampak dalam jajaran diplomasi dan
tidak berperan penting dalam usaha penarikan investor investor asing dari
Negara Timur Tengah. Ini juga mengakibatkan lemahnya diplomasi Negara kita
dengan Negara Timur tengah dan juga mengakibatkan lemahnya identitas eksistensi
warga mayoritas muslim Indonesia.
Hal yang sudah
menjadi lumrah ketika para orang tua yang menginginkan anak – anaknya untuk
belajar bahasa asing adalah untuk kemajuan dan ketidaktertinggalan anak – anak
mereka atas globalisasi bahasa. Ini juga terjadi bagi orang tua yang
menginginkan anak – anaknya untuk lebih mempelajari bahasa arab, akan tetapi
menurut hasil survei yang dilakukan secara sederhana, banyak dari orang tua
yang menginginkan agar anak –anaknya lebih berkualitas dalam hal agama atau menginginkan
anak – anak mereka untuk dapat mendalami ajaran agama secara detail. Ini adalah
factor dari paradigma masyarakat Indonesia pada umumnya yang belum bisa dapat
menerima dan tepatnya belum tau bahwa eksistensi bahasa arab bisa dan bahkan
lebih bisa membumi dibandingkan dengan bahasa asing lainnya terutama bahasa Inggris. Selain
paradigma ini, pengenalan dan penyebaran bahasa arab di Indonesia sendiripun
masih minim, padahal kita memiliki puluhan ribu SDM yang berkualitas dalam
bidang pelafalan bahasa arab. Hal ini cukup menjadi polemik miris di Negara
yang memiliki banyak sumber daya pelafal bahasa arab yang mahir akan tetapi
sumber daya para pelajar tersebut tidak didaya fungsikan sebagai senjata
diplomatis bagi pemerintah Indonesia. Pembentukan senjata diplomatis ini juga
memerlukan dukungan besar dari pemerintah kita sendiri baik dalam bentuk
pengakuan untuk para pelajar pesantren dimata pemerintahan Indonesia ataupun
dalam bentuk maksimalisasi potensi pelafalan bahasa arab oleh mahasiswa –
mahasiswa perguruan tinggi negeri yang juga mempelajari bahasa arab.
Hal terpenting
dalam pembentukan senjata diplomatis ini adalah peran mahasiswa –mahasiswa
terutama pelajar – pelajar santri yang harus lebih meng-intelektualisasikan pembumian
bahasa arab minimal sampai masyarakat Indonesia sendiri mengakui bahwa bahasa
arab juga memiliki kredibilitas yang tinggi. Intelektualisasi ini juga perlu
dukungan dari pemerintah Negara kita, karena dalam proses intelektualisas kita
perlu memasuki dunia teknologi, pendidikan, ekonomi dan seluruh aspek
kenegaraan dimana semua aspek tersebut dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia
sendiri. Tidak lupa yang lebih penting adalah, optimalisasi pendayagunaan
sumber daya pelajar santri yang kita miliki untuk lebih disalurkan di dunia
perpolitikan dan diplomasi Indonesia terutama saat ini dengan Negara Timur
Tengah yang sedang menjadi sorotan dunia baik dalam hal ekonomi maupun politik.
Optimalisasi ini digandengkan dengan intelektualisasi bagi sumber daya – sumber
daya pelajar terutama santri yang mempelajari bahasa arab di Negara Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar