Jumat, 23 Mei 2014

Essay; INTELEKTUALISASI BAHASA ARAB SEBAGAI SENJATA DIPLOMASI INDONESIA - TIMUR TENGAH



INTELEKTUALISASI  BAHASA  ARAB  SEBAGAI  SENJATA  DIPLOMASI
INDONESIA - TIMUR TENGAH
Oleh
Aminah Islamiyah
Sastra Arab Universitas Padjadjaran

Eksistensi bahasa arab di mata dunia pada dasarnya sudah tidak dapat diragukan lagi saat ini. Jika kita hendak flashback, mendunia-nya bahasa arab sudah terjadi dari masa kepemimpinan khilafah bani Abbasiyah dahulu disertai dengan berkembangnya agama Islam ke wilayah Eropa. Bahasa arab-pun menjadi bahasa peradaban yang ditandai dengan diterjemahkannya berbagai  buku Yunani dan Persia ke dalam bahasa arab. Dan puncak kejayaannya adalah pada masa – masa dimana mayoritas cabang semua  ilmu terlahir dari ilmuwan – ilmuwan arab, disinilah bahasa arab tertuntut dipelajari oleh banyak manusia dari luar Negara Arab.
Dalam perjalanan perkembangannya, bahasa arab juga dianggap pernah mengalami kemerosotan. Masa kemerosotan ini tidak terlepas dari perjalanan berkembangnya peradaban agama islam di dunia. Setelah masa khilafah Turki Usmani runtuh, bangsa Arab banyak dimasuki oleh orang – orang Barat dan secara perlahan mulailah terjadi pengikisan bahasa arab baku menjadi bahasa arab dialek yang saat ini kita juga dapat menemukan di berbagai belahan Negara – Negara arab. Jatuhnya peradaban islam saat itu cukup menjadi pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan bahasa arab yang akhirnya melahirkan bahasa “gaul” di Negara – Negara Timur Tengah. Bersyukurnya, tersandungnya peradaban bahasa arab ini tidak sampai pada jatuh yang tak bisa bangkit kembali, selain karena telah dijamin oleh Alloh SWT atas keabadian bahasa arab dalam Al-Qur’an, maka saat ini kita dapat menyaksikan eksistensi bahasa arab yang tak pernah mati. Selain digunakan sebagai salah satu bahasa pengantar PBB, bahasa arab juga banyak dipelajari “kembali” oleh banyak masyarakat di luar Negara Timur Tengah. Ke-eksistensi-an ini sudah menjadi rahasia umum di dunia, 99,99 % Negara pemasok minyak di dunia adalah Negara – Negara Timur Tengah , selayaknya kita sebagai mahasiswa yang tidak hanya  mempelajari tentang bahasa arab tapi juga mengenai profil negara – negara tersebut  harus mengetahui poin – poin ke-eksistensi-an bahasa arab di mata dunia.
Dalam hal perkembangan situasi ekonomi dunia, bahasa arab memiliki peran dan porsi yang sangat penting, hal itu ditunjukkan dengan semakin berperannya Negara –negara Timur Tengah yang notabene berbahasa arab dalam keterlibatannya sebagai jantung ekonomi dunia. Keadaan ini melahirkan tuntutan Negara kita Indonesia untuk dapat ikut berperan dan menjalin hubungan diplomasi dengan negara – negara Timur Tengah, terutama penekanan dalam hubungan diplomasi. Pada dasarnya hubungan Negara Indonesia yang sama – sama notabene beraga muslim cukup dan seharusnya menjadi factor penting untuk Negara – Negara Timur Tengah agar lebih “mujur” menjalin hubungan diplomasi dengan Negara kita. Akan tetapi, menurut data terkini masih ada pendapat yang menyatakan bahwa kepercayaan Negara – Negara Timur Tengah terhadap negara Indonesia kita “kalah kepercayaan” dengan Negara tetangga, Malaysia. Kalah kepercayaan ini dinilai dari para investor – investor Timur Tengah yang lebih banyak memilih untuk menginvestasikan bisnisnya di Negara tetangga kita tersebut. Mengapa hal ini bisa terjadi dan mengapa sampai bisa terjadi dengan mempertimbangkan pada dasarnya kita memiliki hubungan awal yang baik dengan negara Timur Tengah. Ini semua kembali kepada eksistensi identitas Negara Indonesia kita, apakah Negara kita adalah Negara islam yang pastinya berhubungan dekat denga bahasa arab ? ataukah Negara kita adalah negara demokrasi yang tidak mengkhususkan kepada identitas agama yang berkaitan dengan bahasa arab.
Terlepas dari identitas Negara Indonesia dan semua perihalnya, saat ini Negara kita sedang sangat berpotensi untuk menjalin kerjasama dan diplomasi dengan Negara –negara Timur Tengah. Potensi ini didukung dengan image Negara yang mayoritas masyarakatnya beragama islam dan juga pembelajaran bahasa arab yang sudah sangat digandrungi oleh hampir 80% pelajar di Indonesia. Oleh karena itu, factor penguasaan bahasa arab sebagai  salah satu senjata atau alat penarik simpati Negara Timur Tengah sangatlah penting dan sangat perlu di terapkan. Pelajar – pelajar yang berstatus santri di Indonesia sendiri sudah tidak diragukan lagi kualitas dan kuantitasnya. Berdasarkan data terakhir Departemen Agama Indonesia menyatakan bahwa data lembaga pendidikan pesantren yang terdaftar berjumlah 27.500 sekian. Ini membuktikan bahwa Indonesia sangat potensial mengenai sumber daya manusia yang mahir akan ilmu serta pelafalan bahasa arab. Dan hal ini cukup menjadi factor penting untuk menunjang ketertarikan Negara – Negara Timur Tengah terhadap Indonesia terutama dalam bidang diplomasi dan kerjasama. Oleh karena itu, perlu penyaluran dan pendayagunaan secara optimal dari SDM-SDM santri  yang ada di Indonesia ini untuk  dapat menjadi senjata – senjata diplomasi bagi Negara – Negara Timur Tengah.
Sayangnya, berlimpahnya sumber daya manusia  para pelajar yang ahli dalam pelafalan bahasa arab dan para pelajar yang khususnya belajar bahasa arab dengan metode penerapan bahasa  dalam keseharian di asrama, seakan – akan tidak nampak dalam jajaran  diplomasi dan tidak berperan penting dalam usaha penarikan investor investor asing dari Negara Timur Tengah. Ini juga mengakibatkan lemahnya diplomasi Negara kita dengan Negara Timur tengah dan juga mengakibatkan lemahnya identitas eksistensi warga mayoritas muslim Indonesia.
Hal yang sudah menjadi lumrah ketika para orang tua yang menginginkan anak – anaknya untuk belajar bahasa asing adalah untuk kemajuan dan ketidaktertinggalan anak – anak mereka atas globalisasi bahasa. Ini juga terjadi bagi orang tua yang menginginkan anak – anaknya untuk lebih mempelajari bahasa arab, akan tetapi menurut hasil survei yang dilakukan secara sederhana, banyak dari orang tua yang menginginkan agar anak –anaknya lebih berkualitas dalam hal agama atau menginginkan anak – anak mereka untuk dapat mendalami ajaran agama secara detail. Ini adalah factor dari paradigma masyarakat Indonesia pada umumnya yang belum bisa dapat menerima dan tepatnya belum tau bahwa eksistensi bahasa arab bisa dan bahkan lebih bisa membumi dibandingkan dengan bahasa asing  lainnya terutama bahasa Inggris. Selain paradigma ini, pengenalan dan penyebaran bahasa arab di Indonesia sendiripun masih minim, padahal kita memiliki puluhan ribu SDM yang berkualitas dalam bidang pelafalan bahasa arab. Hal ini cukup menjadi polemik miris di Negara yang memiliki banyak sumber daya pelafal bahasa arab yang mahir akan tetapi sumber daya para pelajar tersebut tidak didaya fungsikan sebagai senjata diplomatis bagi pemerintah Indonesia. Pembentukan senjata diplomatis ini juga memerlukan dukungan besar dari pemerintah kita sendiri baik dalam bentuk pengakuan untuk para pelajar pesantren dimata pemerintahan Indonesia ataupun dalam bentuk maksimalisasi potensi pelafalan bahasa arab oleh mahasiswa – mahasiswa perguruan tinggi negeri yang juga mempelajari bahasa arab.
Hal terpenting dalam pembentukan senjata diplomatis ini adalah peran mahasiswa –mahasiswa terutama pelajar – pelajar santri yang harus lebih meng-intelektualisasikan pembumian bahasa arab minimal sampai masyarakat Indonesia sendiri mengakui bahwa bahasa arab juga memiliki kredibilitas yang tinggi. Intelektualisasi ini juga perlu dukungan dari pemerintah Negara kita, karena dalam proses intelektualisas kita perlu memasuki dunia teknologi, pendidikan, ekonomi dan seluruh aspek kenegaraan dimana semua aspek tersebut dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sendiri. Tidak lupa yang lebih penting adalah, optimalisasi pendayagunaan sumber daya pelajar santri yang kita miliki untuk lebih disalurkan di dunia perpolitikan dan diplomasi Indonesia terutama saat ini dengan Negara Timur Tengah yang sedang menjadi sorotan dunia baik dalam hal ekonomi maupun politik. Optimalisasi ini digandengkan dengan intelektualisasi bagi sumber daya – sumber daya pelajar terutama santri yang mempelajari bahasa arab di Negara Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar