Desa
Depok Kec.Darangdan PURWAKARTA
“Jika Aku Menjadi Siswi SMP 6 Depok”
oleh : Aminah Islamiyah
NPM 180910100068
Sastra Arab FIB UNPAD
Manusia memang tidak dapat memilah –
milah dari rahim siapa mereka dilahirkan. Tuhan telah menuliskan apa – apa yang
menjadi ketetapannya dalam lembaran –
lembaran yang tidak ada satu manusiapun yang dapat mengetahuinya. Tuhan telah
menakdirkan Aku untuk terlahir dari rahim seorang ibu yang sangat lemah lembut
dan penyayang; yang dalam setiap doa sehabis shalatnya namaku selalu disebutkan.
Tuhan telah menggariskan Aku untuk terlahir di keluarga yang hangat dan sederhana,
yang apabila Aku meninggalkannya entah ke mana walau sebentar, rasa rindu pasti
akan menyergap; membuat Aku ingin segera pulang untuk setidaknya sekali lagi
merasakan hangatnya nasi goreng pagi yang dihidangkan ibu. Aku sepertinya telah
bahagia dengan kehidupan yang Tuhan telah gariskan kepada diriku ini. Tak mau
aku menukarkan kehidupan ini dengan yang lain. Tak akan. Namun, siapa yang
mengira bahwa bapak Dosen Pembimbing Lapangan KKNM-ku menyuruh Aku untuk
berimajinasi seolah – olah Aku merupakan warga Desa Depok. Baiklah; tantangan
diterima.
Aku melihat bocah-bocah cantik dan
lugu siswa-siswi SMP 6 Depok berjalan-kaki menuju SMP yang hanya ada satu-satunya
di desa Depok. Siswi-siswi yang bercanda dengan riang serta tertawa-tawa kecil
membicarakan teman-teman lelakinya yang membuat mereka berbunga-bunnga. Tiba-tiba
langsung terbersit dalam benakku, dengan sesederhana mungkin jika aku bisa
memilih untuk menjadi bagian dari warga Desa Depok , aku akan memilih untuk
menjadi seorang siswi SMP 6 Desa Depok . Banyak yang mengatakan bahwa masa
kecil merupakan masa yang paling indah; masa yang sepertinya sayang sekali
apabila dibiarkan menguap begitu saja. Anak kecil memiliki pemikiran yang
sangat sederhana; tidak ribet – ribet; bebas seakan kata “masalah” tidak pernah
ada di muka bumi ini. Simsalabim! Aku masih anak sekolah; seorang bocah kelas
III SMP. Namaku tetap Aminah, aku terlahir dari rahim yang sama dan tinggal
dengan keluarga yang sama pula.Yang berbeda adalah sekarang Aku dan keluargaku
tinggal di Desa Depok.
Jika Aku menjadi Aminah, seorang
bocah kelas III Sekolah Menengah Pertama, satu-satunya lembaga pendidikan SMP
yang ada di desaku, aku hanya akan melakukan hal-hal sesederhana mungkin
sebagai seorang siswi dan anak dari kedua orang tuaku di desa. Aku akan
terbangun pada setiap pagi oleh lembutnya belaian ibu yang seraya menyuruhku
untuk segera menunaikan ibadah shalat Shubuh. Terbangun; Aku akan segera
bergegas mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat yang setelahnya Aku berdoa
“Ya Allah sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangi Aku ketika
Aku masih kecil. Aamiin.” Lalu apa setelahnya? Mandi? Ah nanti saja, nasi
goreng buatan ibu sudah menunggu di dapur. Nasinya nasi sisa kemarin memang;
namun, tak apalah, tetap harus disyukuri. Walaupun nasinya keras, tapi Aku tahu
itu dimasak dengan lembutnya hati seorang ibu yang secara tulus ingin
mempersembahkan hidangan yang terbaik bagi seluruh keluarganya. Setelah perut
terisi penuh, aku akan bergegas mandi. Tidak mau Aku jika sampai terlambat
masuk sekolah!
Aku pun berangkat ke sekolah;
sedangkan, Ayah berangkat ke sawah untuk memanen padi, dan ibu yang akan
senantiasa selalu membantu ayah dalam memanen padi yang selanjutnya dibersihkan
dan akan dijual. Ayah dan ibu merupakan para pekerja keras yang pantang bagi
mereka pulang ke rumah tanpa baju yang dikotori oleh noda dari tanah di sawah. Di
sekolah, Aku akan selalu semangat untuk belajar karena Aku sadar kebodohan
merupakan suatu keniscayaan bagi orang – orang yang malas untuk menuntut ilmu.
Aku tidak ingin menjadi bodoh, atau bahkan terlihat bodoh di depan Asep, teman
sekelasku yang sudah sebulan lebih ini selalu membuat dag dig dug apabila Aku
diajak bicara olehnya. Entahlah mengapa, mungkin ini yang mereka sebut dengan
cinta monyet. Cinta monyet bukanlah cinta dari seekor monyet; Aku terlalu
cantik untuk dipadankan dengan seekor monyet,. Cinta monyet cinta main – main;
ah, dasar bocah ingusan yang bandel.
Ketika jam sekolah
usai, maka Aku akan segera pulang ke rumah, lalu membuka tudung saji untuk
menyantap masakan yang telah disiapkan ibu sebelumnya. Setelah kenyang, Aku
akan bergegas untuk pergi ke Madrasah atau biasa disebut sekolah agama, aku
ingin belajar agama, aku ingin bisa tau bagaimana cara aku berdoa dan menyebut
nama ayah ibu-ku untuk ku doakan agar mereka berdua senantiasa diberikan
kesehatan dan kebahagiaan. Aku tak hanya ingin pintar dalam pelajaran-pelajaran
di SMP-ku saja,aku ingin agar aku termotivasi untuk tidak ikut-ikutan
teman-temanku yang lain yang setelah pulang sekolah hanya janjian dengan pacar
mereka masing-masing walaupun sebenarnya ada Asep yang aku suka, tapi sekolah
agama dan kesuksesanku lebih aku inginkan untuk aku dapatkan.
Setelah aku pulang
dari sekolah agama, aku punya waktu satu jam untuk bermain sebentar sebelum
waktu maghrib datang Aku akan bermain bersama teman-teman SMP-ku yang sedang
duduk-duduk di pinggir jalan untuk sekedar nongkrong dan bertemu serta
bercengkrama sedikit sembari sedikit mengungkit dan mengingatkan kepada
teman-temanku bahwa ada tugas PR yang wajib kita kumpulkan besok di sekolah. sepak
bola di lapangan bersama teman – temanku. Setelah sebentar aku menghampiri
teman-teman-ku, Aku akan bergegas untuk pulang ke rumah untuk membasuh badan
dengan air dan sabun. Sudah harum, Aku akan mengerjakan pekerjaan rumah yang
diberikan oleh ibu guru untuk dikumpulkan keesokan harinya. Memang akhir –
akhir ini ibu guru memberikan agak sedikit banyak tugas kepada para siswi kelas
III; maklumlah Ujian Nasional tinggal menghitung bulan lagi, sehingga kami
memang dituntut untuk lebih giat lagi belajar. Setelah mengerjakan pekerjaan
rumah, Aku akan ke masjid untuk shalat isya berjamaah yang setelahnya mengaji
sebentar bersama teman – teman. Setelah itu, pulanglah Aku ke rumah dan tak
usahlah bermain di malam hari atau mungkin hanya sekedar menonton televisi.
Malam hari Aku akan makan dan bercengkrama bersama keluarga, menikmati waktu
berkualitasku bersama keluarga; bercengkrama sampai seakan ada buah rambutan
yang bergelantung pada kedua kelopak mata ini, membuat mata ini semakin berat
untuk terbuka dan akhirnya terpejam di atas hangatnya kasur.
Mungkin itulah
rutinitas sederhana yang akan Aku pilih untuk kujalani jika Aku menjadi seorang
murid SMPN 6 Desa Depok. Aku ingin rutinitas yang seperti itu; rutinitas yang
membawaku untuk menjadi lulusan sisswi SMP yang memiliki semangat tinggi untuk
senantiasa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, rutinitas
kehidupan yang aku harap jauh dari modernisasi. Biarlah Aku tumbuh menjadi
seorang anak desa yang bebas lepas yang jauh dari nilai – nilai yang buruk yang
selalu dikemas secara baik oleh kehidupan modern di kota sana. Aku ingin
menjalankan peran Aku sebagai seorang murid SMP Depol saja sebagaimana
mestinya; bukan sebagai Ketua RT, Ketua RW, Tokoh Masyarakat, maupun Kepala
Desa; sebagai seorang murid SMP 6 depok saja. Aku ingin memulai dari sini, dari
pribadi ini, dan sedari dini. Aristoteles pernah berkata bahwa negara merupakan
gabungan dari desa – desa, yang merupakan gabungan dari keluarga – keluarga
yang berisi individu – individu. Jika ingin negara ini maju, maka desa sebagai
bagian dari pondasi pembangun negara haruslah baik pula. Untuk menciptakan
sebuah desa yang baik, maka dibutuhkan keluarga – keluarga yang hebat yang
sudah pasti berisi individu – individu yang luar biasa pula. Maka dari itu,
dimulai dari diri ini, jika Aku menjadi seorang murid Sekolah Menengah Pertama
SMP 6 Depok yang selalu memiliki semangat belajar hingga ke jenjang yang lebih
tinggi, Aku akan berusaha untuk menjalani perananku dengan baik sebagaimana
mestinya. Keluargaku sudah hebat, maka Aku harus hebat pula. Aku harus menjadi
seorang murid SMP yang rajin belajar agar aku hebat. Dengan begitu, mungkin
saja kelak Aku bisa menjadi orang hebat yang dapat mengubah desa ini menjadi
desa yang penuh dengan keluarga – keluarga hebat yang berisi individu –
individu yang luar biasa. Ketika hal itu terjadi, setidaknya ada satu pondasi
kokoh yang menopang negara ini; desa kami. Walaupun mungkin hanya satu; namun,
ingatlah bahwa satu itu ada.
Aku hanya ingin
menjadi seorang siswi pelajar SMP 6 Depok yang menjalani rutinitas kehidupan di
Desa dengan sederhana mungkin dan selalu memiliki semangat untuk melanjutkan
sekolah terus ke jenjang yang lebih tinggi dan tidak bernasib sama dengan
kebanyakan teman-teman di desaku yang langsung menikah setelah lulus SMP.
"Walaupun KKN ketemu sama temen kelas juga, tak apalah...^^"
"All my friends at KKN Depok.... dari yang paling ngeselin sampe yang paling nyenengin..^^"
"Muatiara-mutiara masa depan Indonesia dari Desa Depok Purwakarta"^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar