Jumat, 23 Mei 2014

Nostalgia Mahasiswa Akhir; Mengenang KKN Februari 2013

Desa Depok Kec.Darangdan PURWAKARTA

“Jika Aku Menjadi Siswi SMP 6 Depok”
oleh : Aminah Islamiyah
NPM 180910100068
Sastra Arab FIB UNPAD

Manusia memang tidak dapat memilah – milah dari rahim siapa mereka dilahirkan. Tuhan telah menuliskan apa – apa yang menjadi ketetapannya  dalam lembaran – lembaran yang tidak ada satu manusiapun yang dapat mengetahuinya. Tuhan telah menakdirkan Aku untuk terlahir dari rahim seorang ibu yang sangat lemah lembut dan penyayang; yang dalam setiap doa sehabis shalatnya namaku selalu disebutkan. Tuhan telah menggariskan Aku untuk terlahir di keluarga yang hangat dan sederhana, yang apabila Aku meninggalkannya entah ke mana walau sebentar, rasa rindu pasti akan menyergap; membuat Aku ingin segera pulang untuk setidaknya sekali lagi merasakan hangatnya nasi goreng pagi yang dihidangkan ibu. Aku sepertinya telah bahagia dengan kehidupan yang Tuhan telah gariskan kepada diriku ini. Tak mau aku menukarkan kehidupan ini dengan yang lain. Tak akan. Namun, siapa yang mengira bahwa bapak Dosen Pembimbing Lapangan KKNM-ku menyuruh Aku untuk berimajinasi seolah – olah Aku merupakan warga Desa Depok. Baiklah; tantangan diterima.
Aku melihat bocah-bocah cantik dan lugu siswa-siswi SMP 6 Depok berjalan-kaki menuju SMP yang hanya ada satu-satunya di desa Depok. Siswi-siswi yang bercanda dengan riang serta tertawa-tawa kecil membicarakan teman-teman lelakinya yang membuat mereka berbunga-bunnga. Tiba-tiba langsung terbersit dalam benakku, dengan sesederhana mungkin jika aku bisa memilih untuk menjadi bagian dari warga Desa Depok , aku akan memilih untuk menjadi seorang siswi SMP 6 Desa Depok . Banyak yang mengatakan bahwa masa kecil merupakan masa yang paling indah; masa yang sepertinya sayang sekali apabila dibiarkan menguap begitu saja. Anak kecil memiliki pemikiran yang sangat sederhana; tidak ribet – ribet; bebas seakan kata “masalah” tidak pernah ada di muka bumi ini. Simsalabim! Aku masih anak sekolah; seorang bocah kelas III SMP. Namaku tetap Aminah, aku terlahir dari rahim yang sama dan tinggal dengan keluarga yang sama pula.Yang berbeda adalah sekarang Aku dan keluargaku tinggal di Desa Depok.
Jika Aku menjadi Aminah, seorang bocah kelas III Sekolah Menengah Pertama, satu-satunya lembaga pendidikan SMP yang ada di desaku, aku hanya akan melakukan hal-hal sesederhana mungkin sebagai seorang siswi dan anak dari kedua orang tuaku di desa. Aku akan terbangun pada setiap pagi oleh lembutnya belaian ibu yang seraya menyuruhku untuk segera menunaikan ibadah shalat Shubuh. Terbangun; Aku akan segera bergegas mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat yang setelahnya Aku berdoa “Ya Allah sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangi Aku ketika Aku masih kecil. Aamiin.” Lalu apa setelahnya? Mandi? Ah nanti saja, nasi goreng buatan ibu sudah menunggu di dapur. Nasinya nasi sisa kemarin memang; namun, tak apalah, tetap harus disyukuri. Walaupun nasinya keras, tapi Aku tahu itu dimasak dengan lembutnya hati seorang ibu yang secara tulus ingin mempersembahkan hidangan yang terbaik bagi seluruh keluarganya. Setelah perut terisi penuh, aku akan bergegas mandi. Tidak mau Aku jika sampai terlambat masuk sekolah!
Aku pun berangkat ke sekolah; sedangkan, Ayah berangkat ke sawah untuk memanen padi, dan ibu yang akan senantiasa selalu membantu ayah dalam memanen padi yang selanjutnya dibersihkan dan akan dijual. Ayah dan ibu merupakan para pekerja keras yang pantang bagi mereka pulang ke rumah tanpa baju yang dikotori oleh noda dari tanah di sawah. Di sekolah, Aku akan selalu semangat untuk belajar karena Aku sadar kebodohan merupakan suatu keniscayaan bagi orang – orang yang malas untuk menuntut ilmu. Aku tidak ingin menjadi bodoh, atau bahkan terlihat bodoh di depan Asep, teman sekelasku yang sudah sebulan lebih ini selalu membuat dag dig dug apabila Aku diajak bicara olehnya. Entahlah mengapa, mungkin ini yang mereka sebut dengan cinta monyet. Cinta monyet bukanlah cinta dari seekor monyet; Aku terlalu cantik untuk dipadankan dengan seekor monyet,. Cinta monyet cinta main – main; ah, dasar bocah ingusan yang bandel.
            Ketika jam sekolah usai, maka Aku akan segera pulang ke rumah, lalu membuka tudung saji untuk menyantap masakan yang telah disiapkan ibu sebelumnya. Setelah kenyang, Aku akan bergegas untuk pergi ke Madrasah atau biasa disebut sekolah agama, aku ingin belajar agama, aku ingin bisa tau bagaimana cara aku berdoa dan menyebut nama ayah ibu-ku untuk ku doakan agar mereka berdua senantiasa diberikan kesehatan dan kebahagiaan. Aku tak hanya ingin pintar dalam pelajaran-pelajaran di SMP-ku saja,aku ingin agar aku termotivasi untuk tidak ikut-ikutan teman-temanku yang lain yang setelah pulang sekolah hanya janjian dengan pacar mereka masing-masing walaupun sebenarnya ada Asep yang aku suka, tapi sekolah agama dan kesuksesanku lebih aku inginkan untuk aku dapatkan.
            Setelah aku pulang dari sekolah agama, aku punya waktu satu jam untuk bermain sebentar sebelum waktu maghrib datang Aku akan bermain bersama teman-teman SMP-ku yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan untuk sekedar nongkrong dan bertemu serta bercengkrama sedikit sembari sedikit mengungkit dan mengingatkan kepada teman-temanku bahwa ada tugas PR yang wajib kita kumpulkan besok di sekolah. sepak bola di lapangan bersama teman – temanku. Setelah sebentar aku menghampiri teman-teman-ku, Aku akan bergegas untuk pulang ke rumah untuk membasuh badan dengan air dan sabun. Sudah harum, Aku akan mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh ibu guru untuk dikumpulkan keesokan harinya. Memang akhir – akhir ini ibu guru memberikan agak sedikit banyak tugas kepada para siswi kelas III; maklumlah Ujian Nasional tinggal menghitung bulan lagi, sehingga kami memang dituntut untuk lebih giat lagi belajar. Setelah mengerjakan pekerjaan rumah, Aku akan ke masjid untuk shalat isya berjamaah yang setelahnya mengaji sebentar bersama teman – teman. Setelah itu, pulanglah Aku ke rumah dan tak usahlah bermain di malam hari atau mungkin hanya sekedar menonton televisi. Malam hari Aku akan makan dan bercengkrama bersama keluarga, menikmati waktu berkualitasku bersama keluarga; bercengkrama sampai seakan ada buah rambutan yang bergelantung pada kedua kelopak mata ini, membuat mata ini semakin berat untuk terbuka dan akhirnya terpejam di atas hangatnya kasur.
            Mungkin itulah rutinitas sederhana yang akan Aku pilih untuk kujalani jika Aku menjadi seorang murid SMPN 6 Desa Depok. Aku ingin rutinitas yang seperti itu; rutinitas yang membawaku untuk menjadi lulusan sisswi SMP yang memiliki semangat tinggi untuk senantiasa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, rutinitas kehidupan yang aku harap jauh dari modernisasi. Biarlah Aku tumbuh menjadi seorang anak desa yang bebas lepas yang jauh dari nilai – nilai yang buruk yang selalu dikemas secara baik oleh kehidupan modern di kota sana. Aku ingin menjalankan peran Aku sebagai seorang murid SMP Depol saja sebagaimana mestinya; bukan sebagai Ketua RT, Ketua RW, Tokoh Masyarakat, maupun Kepala Desa; sebagai seorang murid SMP 6 depok saja. Aku ingin memulai dari sini, dari pribadi ini, dan sedari dini. Aristoteles pernah berkata bahwa negara merupakan gabungan dari desa – desa, yang merupakan gabungan dari keluarga – keluarga yang berisi individu – individu. Jika ingin negara ini maju, maka desa sebagai bagian dari pondasi pembangun negara haruslah baik pula. Untuk menciptakan sebuah desa yang baik, maka dibutuhkan keluarga – keluarga yang hebat yang sudah pasti berisi individu – individu yang luar biasa pula. Maka dari itu, dimulai dari diri ini, jika Aku menjadi seorang murid Sekolah Menengah Pertama SMP 6 Depok yang selalu memiliki semangat belajar hingga ke jenjang yang lebih tinggi, Aku akan berusaha untuk menjalani perananku dengan baik sebagaimana mestinya. Keluargaku sudah hebat, maka Aku harus hebat pula. Aku harus menjadi seorang murid SMP yang rajin belajar agar aku hebat. Dengan begitu, mungkin saja kelak Aku bisa menjadi orang hebat yang dapat mengubah desa ini menjadi desa yang penuh dengan keluarga – keluarga hebat yang berisi individu – individu yang luar biasa. Ketika hal itu terjadi, setidaknya ada satu pondasi kokoh yang menopang negara ini; desa kami. Walaupun mungkin hanya satu; namun, ingatlah bahwa satu itu ada.

            Aku hanya ingin menjadi seorang siswi pelajar SMP 6 Depok yang menjalani rutinitas kehidupan di Desa dengan sederhana mungkin dan selalu memiliki semangat untuk melanjutkan sekolah terus ke jenjang yang lebih tinggi dan tidak bernasib sama dengan kebanyakan teman-teman di desaku yang langsung menikah setelah lulus SMP.


"Walaupun KKN ketemu sama temen kelas juga, tak apalah...^^"


"All my friends at KKN Depok.... dari yang paling ngeselin sampe yang paling nyenengin..^^"


"Muatiara-mutiara masa depan Indonesia dari Desa Depok Purwakarta"^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar